Peran Khadijah dalam Islam belum sepenuhnya dihargai.
Pengaruhnya pada Muhammad tidak dapat ditekankan secara berlebihan.
Khadijah harusnya dianggap sebagai partnernya Muhammad dalam kelahiran
Islam. Tanpa dia, mungkin, Islam tidak akan pernah ada.
Kita tahu bahwa Khadijah memuja suami mudanya. Tidak
ada laporan bahwa Muhammad pernah bekerja setelah menikahi Khadijah.
Setelah pernikahan, bisnis Khadijah kelihatannya menurun tajam. Ketika
dia meninggal, keluarganya menjadi melarat.
Khadijah memiliki sepupu bernama Waraqah ibn Nawfal.
Waraqah, Khadijah, dan Muhammad, ketiganya berasal dari klan Quraish.
Waraqah, putera dari Nawfal, putera Assad, putera Abdul ‘Uzzah, putera
Qussayy.Khadijah, adalah puteri Khuwaylid, putera Assad, putera Abdul ‘Uzzah, juga putera Qussayy. Khadijah menjadi isteri pertama Muhammad, putera Abdullah, putera Abdul Muttalib, putera Hashim, putera Abd Manaf, putera Qussayy.
Di artikel terdahulu kita mengetahui bahwa pernikahan
Khadijah – Muhammad ini kemungkinan besar diatur oleh Waraqah. Seorang
pendeta Nosrania, yang bercita2 menyebarkan monotheisme ditanah Arab
melalui Muhammad.
Muhammad tidak mengurus anak-anaknya juga. Ditolak
oleh dunia nyata, dia habiskan waktunya sendiri dalam gua2, mengundurkan
diri kedunia khayalan dan renungan. Ia habiskan waktunya untuk belajar
bersama2 dengan Waraqah mengenai masalah agama. Kadang dia membawa
makanan utk berhari-hari, kembali hanya ketika makanan sudah habis. Lalu
dia akan menuju kekota, mengambil bekal lagi dan kembali.
Khadijah tinggal dirumah mengurus kesepuluh anak dia
sendirian. Tapi dia tidak mengeluh. Dia tidak saja mengurus anak2nya dan
rumah tapi juga suami mudanya, yang bertingkah laku seperti anak kecil
yang tidak bertanggung jawab. Tapi Khadijah senang berkorban. Kenapa?
Ini adalah pertanyaan yang penting. Jawabannya adalah
bahwa Khadijah sendiri punya kelainan pribadi. Dia punya penyakit yang
jaman kita sekarang disebut co-dependent (ketergantungan). Pengetahuan
ini akan menolong kita utk mengerti kenapa dia berdiri disamping
suaminya dan mendorong dia melanjutkan karir kenabiannya.
The National Mental Health Association (NMHA)
mendefinisikan co-dependency sebagai: “Kelakuan yang dipelajari yang
bisa diturunkan dari satu generasi ke generasi lain. Hal ini adalah
sebuah kondisi perangai dan emosi yang mempengaruhi kemampuan seorang
individu untuk mendapat hubungan yang memuaskan kedua belah pihak dan
sehat. Juga dikenal sebagai “relationship addiction” (ketagihan
hubungan) karena orang dengan co-dependency sering membentuk atau
mempertahankan hubungan yang satu pihak saja, yang secara emosional
merusak dan/atau menghina. Penyakit ini pertama diidentifikasi sekitar
10 tahun lalu dari hasil bertahun2 mempelajari hubungan2 antar manusia
dalam keluarga alkoholik. Kelakuan Co-dependent dipelajari dengan
mengamati dan meniru anggota keluarga lain yang menunjukkan kelakuan
tipe ini.”
Khadijah adalah seorang wanita yang menarik. Dia anak
perempuan favorit dari ayahnya Khuwaylid. Malah Khuwaylid bergantung
padanya, melebihi ketergantungan terhadap anak laki-lakinya. Khadijah
adalah “anak sang ayah.” Dia telah menolak tawaran orang2 kuat di Mekah.
Tapi ketika dia melihat anak muda ini yang tak dimiliki siapapun,
Muhammad yang butuh uang, dia jatuh cinta padanya dan mengirim pembantu
utk memintanya melamar dia.
Pada permukaan kelihatannya bahwa Muhammad punya
pribadi yang memikat yang membuat wanita berkuasa terpukau. Ini,
betapapun, adalah sebuah pengertian yang dangkal mengenai dinamika
kompleks.
Meski hatinya rindu akan kemudaan yang segar dan
menarik, tapi dia menahan diri sebelum mengambil langkah2 untuk memenuhi
hasratnya tersebut. Dia harus mengatasi tradisi Arab Kuno dan
keluarganya sendiri yang menghalangi wanita seumurnya untuk menikah. Ia
khususnya mengkhawatirkan pamannya, Amr ibn Asaad, yang
tanpa persetujuannya mustahil baginya untuk menikah dengan pria
idamannya. (Ayah Khadijah, Khuwaylid, telah tewas dalam peperangan) Dia
perlu membuat sebuah situasi yang bukan hanya dapat membuat pria
idamannya kelihatan spesial, tapi juga dapat membuat pamannya
mengijinkan pernikahan dengan pemuda idamannya.
Tabari menulis: “Khadijah mengirim pesan pada
Muhammad, mengundangnya untuk mengambil dia. Dia memanggil pamannya
untuk datang kerumahnya, memberinya arak hingga mabuk, memberi parfum,
memakaikan pakaian pesta padanya dan lalu memotong seekor sapi. Lalu dia
undang Muhammad dan pamannya. Ketika mereka datang, pamannya menikahkan
Muhammad dengannya. Ketika dia sadar dari mabuknya, dia berkata “daging
apa ini, parfum ini dan pakaian ini?” Dia menjawab, “kau telah
menikahkanku pada Muhammad bin Abdullah”. “Aku tidak melakukan itu,”
katanya. “Akankah kulakukan ini ketika orang2 terhebat di Mekah
memintamu dan aku tidak setuju, kenapa aku berikan kau pada seorang
gelandangan?” [Persian Tabari v. 3 p.832]
Pihak Muhammad menjawab dengan marah bahwa
persekutuan ini telah diatur oleh anak perempuannya sendiri. Orang tua
itu marah dan menarik pedang dan kerabat Muhammad juga menarik pedang
mereka. Darah akan mengalir jika saja Khadijah tidak menyatakan cintanya
pada Muhammad agar diketahui banyak orang dan mengaku telah mengatur
semua ini. Khuwaylid lalu menenangkan diri, sampai akhirnya dia menyerah
telah di fait accompli dan rekonsiliasipun terjadi.
Khadijah adalah seorang wanita berhasil yang pesolek.
Dia telah menolak lamaran dari banyak orang Quraish yg terkenal.
Bagaimana orang menjelaskan seorang wanita yang kelihatan sukses dan
berpikiran sehat mendadak jatuh cinta pada anak muda miskin yang 15
tahun lebih muda? Kelakuan aneh ini mengungkapkan adanya kelainan
pribadi dalam diri Khadijah.
Bukti2 menandakan bahwa paman Khadijah adalah seorang
pemabuk. Khadijah mestinya tahu kelemahan pamannya ini hingga dia
merancang rencana yang begitu berani. Orang2 yang ketagihan alkohol
cenderung lepas kontrol dan mabuk. Orang2 non alkohol minum dengan
cukupan dan tahu kapan utk berhenti. Ketika Amr ibn Asaad mabuk,
pestanya belum lagi mulai dan para tamu belum lagi datang. Hal ini
memberitahukan kita bahwa dia bukanlah peminum musiman saja tapi benar2
peminum berat. Sekarang, kenapa hal ini jadi masalah? Karena ini adalah
petunjuk lain utk mendukung spekulasi bahwa Khadijah seorang yang
mempunyai kecenderungan co-dependent. Anak2 dari keluarga alkoholik
cenderung mengembangkan co-dependency.
Pamannya Khadijah terlalu melindungi keponakannya
perempuannya dan punya harapan2 yang tinggi baginya. Dari reaksinya akan
pernikahan keponakannya yang berumur 40 tahun pada seorang yang biasa2
saja dan dari perkataannya “orang2 terhebat di Mekah memintamu dan aku
tidak setuju,” jelas bahwa Khadijah adalah mutiara dimatanya.
Anak2 yang dipuji dan ditempatkan ditempat tinggi
oleh orang tua yang memujinya tumbuh dalam bayang2 mereka. Mereka sering
mengembangkan ‘codependency personality disorder’. Mereka menjadi
terobsesi oleh ayah mereka (atau ibu mereka) dan melihat fungsi mereka
utk membuat orang tua mereka terlihat hebat dimata orang lain. Mereka
diharapkan jadi semacam ‘wunderkind’ (orang sukses).
Dibawah tuntutan yang terus menerus meminta kemampuan
lebih baik, sang anak menjadi tidak mampu mengembangkan pribadi
mandirinya. Dia mencari pemenuhan utk memuaskan kebutuhannya dari orang
tua narsisis dan perfeksionis. Dia tidak merasa dicintai APA ADANYA,
tapi dicintai karena dilihat BAGAIMANA prestasinya. Orang tua yang
alkoholik mengeluarkan semua muatan emosinya pada sang anak, khususnya
yang punya potensi. Dia mengharap anak itu utk cemerlang dalam segala
hal dan menggantikan kekurangan dan kegagalan dia sendiri.
Co-dependent tidak dapat menemukan kepuasan dan
kebahagiaan dari hubungan emosional yang normal dan sehat yang biasa
terjadi diantara orang2 sederajat. Hanya dalam kapasitas pemberi
kesenangan dan menjadi penyenanglah orang codependent menemukan
kebahagiaan mereka. Pasangan yang “cocok dan tepat” bagi orang
codependent adalah seorang Narsisis yang sangat butuh pemuasan.
Khadijah menolak para pelamarnya yang lebih dewasa
dan sukses, jatuh cinta pada anak muda miskin yang sangat butuh baik
uang maupun emosional. Codependent keliru mengartikan rasa cinta dan
rasa kasihan. Mereka punya kecenderungan utk ‘mencintai’ orang yang
seharusnya mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.
Vaknin memakai istilah “self effacing” (tidak
menonjolkan diri sendiri) atau “inverted narcissism” (narsisisme
terbalik), untuk istilah co-dependency. Inilah apa yang dia katakan
tentang hubungan codependent-narsisis: “Orang narsisis invert
dikondisikan dan diprogram dari awal utk menjadi teman sempurna bagi
sang narsisis – utk memberi makan Ego mereka, utk secara murni menjadi
kepanjangan tangan mereka, utk mencari pujian dan pengelu-eluan dan jika
hal itu menghasilkan pujian dan pemujaan yang lebih besar kepada sang
narsisist.” [http://samvak.tripod.com/faq66.html ]
Hal di atas menjelaskan kenapa seorang wanita sukses
dan cantik seperti Khadijah tertarik pada seorang narsisis dan butuh
uang seperti Muhammad. Meski orang ‘narsisis invert’ cenderung sukses
dalam bisnisnya, hubungan mereka sering tidak sehat. Vaknin lebih lanjut
menjelaskan: “dalam sebuah hubungan, narsisis invert berusaha utk
menciptakan kembali hubungan orangtua-anak. Sang narsisis invert
berkembang dengan meniru/bercermin pada ‘kehebatan khayal’ sang narsisis
dan ketika melakukannya sang narsisis invert itu sendiri mendapatkan
suplai bagi ego narsisistiknya SENDIRI (ketergantungan sang narsisis
pada sang invert akan suplai narsisistik sekundernya). Sang invert mesti
punya bentuk hubungan sedemikian dengan sang narsisis demi merasa
lengkap dan terpenuhi. Sang invert akan sudi bertindak sejauh yang
dibutuhkan utk meyakinkan bahwa sang narsisis itu merasa bahagia, merasa
disayangi, merasa dipuja dengan cukup, karena dia pikir hal itu sudah
menjadi hak sang narsisis. Sang invert memuliakan sang narsisis,
menempatkannya ditempat tinggi, memikul semua pengorbanan bagi sang
narsisis dengan ketenangan hati dan tahan penghinaan sang narsisis. [http://www.toddlertime.com/sam/66.htm]
Perkawinan Muhammad dan Khadijah kelihatannya cocok
sekali. Muhammad adalah seorang narsisis yang haus utk dipuji terus
menerus, diperhatikan dan dikagumi. Dia seorang miskin, yatim dan secara
emosional membutuhkan banyak hal. Dia seorang dewasa tapi jiwanya masih
seperti anak2 yang butuh perhatian. Dia membutuhkan seseorang yang
merawatnya dan menafkahinya, seseorang utk diperalat dan dimanfaatkan,
seperti bagaimana anak kecil memperalat dan memanfaatkan ibunya.
Kedewasaan emosional seorang narsisis berhenti pada
masa anak-anak. Kebutuhan anak2nya tidak pernah terpuaskan. Dia terus
menerus mencoba memuaskan kebutuhan anak2nya tsb. Semua bayi adalah
narsisis dan itu diperlukan bagi tahap pertumbuhan mereka. Tapi jika
kebutuhan narsisis mereka tidak dipuaskan ketika masa anak-anak,
kedewasaan emosi mereka akan berhenti pada tahap ini. Mereka mencari
perhatian yang mereka tidak dapatkan ketika kecil dalam hubungan dengan
pasangan dan dengan yang lainnya, termasuk dengan anak2 mereka.
Hasrat Muhammad akan cinta diungkapkan olehnya dalam
banyak kejadian. Ibn Sa’d mengutip perkataanya bahwa keluarga2 Quraish
semuanya punya hubungan padaku dan meski jika mereka tidak mencintaiku
karena pesan yang aku bawa pada mereka, mereka seharusnya mencintaiku
karena kekerabatanku dengan mereka. [Tabaqat vol.1 page.3] Dalam Quran
Muhammad berkata: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas
seruanku kecuali cinta dari keluarga terdekat.” [QS 42: 23] Perkataan
ini jelas merupakan jeritan putus asa dari seseorang yang butuh cinta
dan perhatian.
Khadijah, dilain pihak, adalah seorang narsisis
invert yang memerlukan objek utk diperhatikan, seseorang utk membuat
khayalan2nya sendiri sebagai seorang pemberi kesenangan. Orang
co-dependent bukan saja rela diperalat, malah dia menikmati hal itu.
Vaknin menulis: “Narsisis invert hidup dan
menggantungkan diri dari narsisis utama dan inilah suplai
narsisistiknya. Jadi dua buah tipe narsisis ini dapat, pada pokoknya,
menjadi saling mendukung, sistem yang simbiosis. Namun dalam
kenyataannya, baik sang narsisis maupun sang invert perlu sadar akan
dinamika hubungan mereka jika ingin hubungan mereka sukses dan awet.” [http://samvak.tripod.com/faq66.html]
Pakar psikologi Dr. Florence W. Kaslow, menjelaskan
simbiosis ini bilang bahwa kedua pihak masing2 punya kelainan
kepribadian (Personality Disorder/PD) – tapi keduanya berada pada kedua
ujung berlawanan dari spektrum ini hingga bisa saling mengisi. “Mereka
nampak memiliki ‘ketertarikan maut’ (fatal attraction) satu sama lain
dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi –
itu sebabnya, jika mereka sampai bercerai, mereka akan tertarik pada
pasangan yang mirip mantan pasangan mereka.”
Hubungan simbiosis antara Sang Narsisis Muhammad dan
Sang Narsisis Invert Khadijah memang bekerja sempurna. Muhammad tidak
lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yang kaya raya. Dia
habiskan waktunya menggelandang digua-gua dan tempat sepi sambil
menikmati fantasinya yg subur, dunia yang menyenangkan dan baik padanya,
dimana dia menjadi seorang yang paling disayang, paling dipuja, paling
dihormati dan paling ditakuti. Khadijah jadi begitu sibuk dengan sisuami
yang narsisis ini dan memenuhi semua kebutuhan2nya hingga dia
mengabaikan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian jadi menurun dan
kekayaannya menyusut drastis. Dia mestinya sudah berusia sekitar 50
tahunan ketika melahirkan anaknya yg paling muda. Ia tinggal dirumah
sementara sang suami kebanyakan tidak pernah dirumah, menyendiri
digua-guanya, baik gua sebenarnya maupun gua mentalnya.
Menurut Vaknin, “Sang invert ini mematikan keberadaan
dirinya, penuh pengorbanan, bahkan berpura-pura manis dalam hubungan2
dengan orang lain dan akan menghindari bantuan dari orang lain itu
dengan segala cara. Dia hanya bisa berinteraksi dengan orang lain jika
dia bisa dilihat sebagai orang yang memberi, mendukurng dan menghabiskan
usaha2 yang tak biasa utk membantu.” [www.toddlertime.com/sam/66.htm]
Dia juga menjelaskan co-dependent sebagai “orang yang
menggantungkan diri pada orang lain utk memberi kepuasan emosional dan
hasil dari Ego atau fungsi sehari2 lainnya.” Dia bilang “mereka butuh
dukungan emosional, penuh tuntutan dan patuh. Mereka takut diacuhkan,
sangat bergantung dan menunjukkan kelakuan tidak dewasa dalam usaha2nya
utk mempertahankan “hubungan” dengan pasangan yang dia jadikan tempat
bergantung tsb.”
Melody Beattie, penulis “Codependent No More” (Tidak
Lagi Codependent) menjelaskah bahwa orang codependent secara tak sadar
memilih pasangan yang bermasalah dg maksud agar punya tujuan, merasa
diperlukan dan merasa dipuaskan.
Orang waras manapun akan mengartikan pengalaman aneh
Muhammad sebagai sakit jiwa atau “kerasukan setan,” seperti yang biasa
dikatakan pada jaman itu. Bahkan Muhammad sendiri pikir dia telah
menjadi seorang Kahin (penyihir) atau kerasukan setan. Seperti yang kita
baca dalam Qur’an, orang2 yang memakai akal di mekah pikir Muhammad
telah jadi majnoon, yang arti harafiahnya adalah kerasukan jin dan
diartikan sebagai gila. Tapi pikiran demikian tidak kuat ditanggung
Khadijah yang mengejar pemuasan dan kebahagiaan dengan cara memuaskan
kebutuhan2 sang suami. Dia harus bergantung pada sang Narsisis miliknya
apapun akibatnya. Sebagai seorang Codependent (Narsisis Inverted),
Khadijah merasa harus maju menolong, memberi saran dan menyelamatkan
sumber utama suplai narsisistiknya.
Sang narsisis sering menuntut pengorbanan dari orang2
disekelilingnya dan mengharapkan mereka utk menjadi ‘codependent’ bagi
dia. Mereka juga hidup diatas kode2 moral yang ada. Mereka terlalu
tinggi utk taat pada moralitas atau aturan apapun. John de Ruiter adalah
orang yang menyatakan diri Messiah dari Alberta, Canada. Para
pengikutnya memuja dia seperti Tuhan. “Satu hari kami duduk didapur
merokok,” kata Joyce, istrinya, yang sekarang cerai, selama 18 tahun,
dalam sebuah wawancara. “Dia membicarakan kematian saya. Ia mengakui
bahwa saya telah melalui banyak kematian, yg katanya itu bagus. Saya
harus melepaskan 95% dari hidup yang harus saya lepaskan. Tapi katanya
saya tidak membiarkan diri saya lepas sepenuhnya. Dia bilang bahwa
‘kemaian akhir’ saya akan terjadi jika dia mengambil dua orang istri
lagi.” Joyce bilang dia pikir John becanda. Ternyata tidak. Ia
mengangkat maslaah ini kedua kalinya, dan meminta Joyce apakah ia merasa
tiga orang istri bisa hidup dalam satu rumah.”
Untungnya Joyce belum sampai pada tahap co-dependent
berat sehingga ia tidak sudi menerima penghinaan ini, dan meninggalkan
suami narsisisnya. Seorang codependent asli akan melakukan apapun utk
menyenangkan pasangan narsisisnya. Hubungan antara codependent dan
narsisisnya adalah hubungan Sadomasochisme (kecenderungan praktek
psikologi/seksual yang dicirikan dengan gabungan kesadisan dan kepuasan
karena siksaan).
Sialnya bagi umat manusia, Khadijah adalah seorang
Co-dependent Sejati, yang sudi mengorbankan apapun bagi sang narsisis
tercinta. Dialah yang mendorong Muhammad utk mengejar ambisi kenabiannya
dan memacunya kearah itu. Ketika Muhammad tidak lagi mengalami ‘ayan’
dan tidak lagi melihat ‘para malaikat’, dia kecewa. Ibn Ishaq menulis:
“Setelah itu, Jibril tidak datang padanya selama beberapa waktu dan
Khadijah berkata, “kupikir tuhan mestinya benci padamu.” [Sira Ibn
Ishaq, hal. 108] Hal ini menunjukkan betapa berhasratnya dia agar sang
narsisis tercinta menjadi seorang nabi.
Kenapa Muhammad tidak mengambil istri lain selama
Khadijah masih hidup? Karena, dia hidup dari uangnya dan dirumahnya. Dan
juga Muhammad terikat janji perkawinan Nosrania yang hanya
memperbolehkan memiliki satu istri hingga salah satunya meninggal.
Lagipula, mayoritas orang Mekah mengejeknya. Dia disebut orang Gila. Tak
seorangpun mau menikah dengannya meski misalnya dia punya uang sendiri
dan Khadijah tidak jadi masalah. Di Mekah, para pengikutnya hanya
segelintir budak dengan hanya sedikit wanita diantara mereka – tak
seorangpun memenuhi hasratnya utk dinikahi. Kalau saja Khadijah masih
hidup dan menyaksikan peningkatan kekuasaan suaminya, kemungkinan besar
dia akan menelan penghinaan dimadu oleh wanita yang jauh lebih muda dan
cantik.
Setelah kematian Khadijah, Muhammad tidak pernah
menemukan co-dependent lain utk mengurusi kebutuhan emosionalnya seperti
yang pernah dilakukan Khadijah. Malahan, dia cari pemenuhan kepuasan
tsb dengan menjadi seorang playboy seksual. Hanya sebulan setelah
kematian istrinya, Muhammad meyakinkan teman dan pengikut setianya, Abu
Bakr, utk mentunangkan dia dengan anak perempuannya yang berumur 6
tahun, Aisyah. Abu Bakr terkejut. Dia mencoba menolaknya dengan halus,
dengan berkata “tapi kita ini masih saudara.” Muhammad meyakinkan dia
mereka hanya saudara dalam iman dan bahwa pernikahannya dengan anak
kecil itu tidaklah haram. [Sahih Bukhari 62:18]
Dia lebih lanjut mengatakan padanya bahwa Aisyah
telah ditunjukkan padanya dua kali dalam mimpi; dimana dia melihat
seorang malaikat membawa Aisyah kecil yang dibungkus kain. “Aku bilang
(pada diriku sendiri), ‘Jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’”
[Sahih Bukhari, 87:140] Sekarang Abu Bakr tidak punya pilihan lain
kecuali meninggalkan Muhammad, orang yang telah dia beri banyak
pengorbanan, mencela dia, menyebut dia pembohong, kembali keorang2nya
sendiri dan mengakui pada mereka bahwa dia selama ini telah bodoh, atau,
melakukan apapun yang Muhammad minta. Ini sering jadi pilihan yang
sulit bagi para pemeluk aliran pemujaan (cult). Mereka terjebak dan
setelah mengorbankan begitu banyak utk mengikuti guru mereka; balik
kembali jadi pilihan yang lebih menyakitkan dibanding tunduk akan
keinginan dan tuntutan pemimpin mereka. Abu Bakr memohon pada Muhammad
utk menunggu tiga tahun lagi sebelum melaksanakan pernikahan (yakni
meniduri sibocah). Muhammad setuju, tapi sementara menunggu itu, dia
menikahi Sauda dulu beberapa hari kemudian.
Muhammad menciptakan sebuah harem yang terdiri dari
banyak wanita. Dia mencoba menggantikan hilangnya ‘ibu penyenang’nya
dengan setumpuk wanita muda. Dia terus menambah koleksi istri dan
selirnya tapi tak satupun memenuhi kebutuhan kekanakannya seperti yang
dilakukan oleh Khadijah. Dia butuh seorang ibu utk mengurus ‘jiwa
kekanak2an’nya, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh ‘istri2 remaja’
bagi seorang lelaki yang sebenarnya patut jadi kakek mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar