Biografi Aisyah r.a
Aisyah r.a binti Abu Bakar adalah istri
ketiga Nabi Muhammad SAW dan beliau diberi nama julukan ash-shiddiqah
“perempuan yang benar dan lurus“ beliau juga dipanggil Ummul Mu’minin
dan diberi kunyah Ummu Abdullah, mengikuti nama keponakannya Abdullah
bin Zubair. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa nama panggilannya adalah
Humairoh, tetapi Rasul lebih sering memanggilnya Bintush-Shiddiq putri
dari laki-laki yang benar dan lurus.[1]
Aisyah dilahirkan di
Mekkah pada bulan Syawal tahun kesembilan sebelum hijrah dan bertepatan
pada bulan Juli tahun 614 M yaitu akhir tahun kelima setelah Nabi
Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul. Aisyah tumbuh dan dibesarkan
dilingkungan Arab yang masih murni, sebab ayahnya telah menyerahkannya
kepada orang Arab Badui untuk diasuh, beliau diasuh oleh sekelompok Bani
Makhzum dan beliau juga tumbuh dan berkembang dilingkungan islam yang
ketat dan dalam keluarga yang utuh sebab beliau dilahirkan setelah islam
datang.
Pada masa kecilnya Aisyah disusui oleh istri dari Wail
Abdul Qu’ais. Wail memiliki saudara laki-laki yang bernama Aflah. Dengan
begitu, Aflah merupakan paman sesusuan Aisyah r.a.
Aisyah adalah
keturunan dari suku Arab yang terpandang yaitu suku Tayim, bagian dari
keluarga besar suku Quraisy yang terkenal berani, suka menolong, berani
membela kehormatan diri dan mengedepankan kedermawanan. Bisnis yang
dilakukan suku Quraisy didasarkan pada prinsip amanah dan prilaku social
mereka didasari oleh kelembutan, suku Quraisy sangat menghormati suku
Tayim. Oleh karena itu suku Quraisy mengadakan sumpah setia untuk selalu
menolong orang yang teraniaya, meringankan beban orang yang membutuhkan
dan membantu kaum yang lemah. Dalam sejarah sumpah setia itu dikenal
dengan nama Half al-Fudhul.
Ayah Aisyah adalah Abu Bakar
ash-Shiddiq, nama asli Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah, sedangkan
ibunya bernama Ummu Rauman. Dari pihak ayah maupun ibu, Aisyah temasuk
suku Quraisy -Bani Tayim dari Abu Bakar dan Bani Kinanah dari Ummu
Rauman. Nasab Aisyah dari ayahnya adalah Aisyah binti Abu Bakar
ash-Shiddiq bin Abu Quhafah ‘Utsman bin Amir bin Umar bin Ka’ab bin
Sa’ad bin Tayim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Fihr bin Malik,
sementara nasab dari ibunya adalah Aisyah binti Ummu Rauman binti Amir
bin Uwaimir bin Abdu Syams bin Ganam bin Malik bin Kinanah. Jelas bahwa
keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq bertemu dengan garis keturunan nabi
Muhammad SAW pada kakek yang ketujuh yaitu pada Murrah bin Ka’ab
sementara dari pihak ibu nasbnya bertemu dengan Rasulullah pada kakeknya
yang kesebelas atau kedua belas. Oleh karena itu, Aisyah berasal dari
keturunan yang mulia.[2]
Aisyah mempunyai saudara kandung
laki-laki yaitu Abd. Ar-Rahman, dua saudara tiri laki-laki yaitu
Abdullah dan Muhammad dan dua sudara tiri perempuanyaitu Asma’dan Umm
Kulsum. Aisyah banyak mewarisi anasir kebanggaan bangsa Arab yang ada
pada suku Tayim. Beliau juga berpegang dalam sikap permusuhan pada
sendi-sendi kepemimpinan dan kemuliaan yang merupakan prinsip bagi
keturunan bani Tayim.
Orang-orang jenius biasanya telah
menampakan tanda-tanda kejeniusan mereka sejak kecil, baik dalam
perkataan maupun perbuatan. Masa kecil mereka seakan-akan menandakan
masa depan yang cemerlang, masa ketika mereka akan melahirkan
prestasi-prestasi besar.begitu pula dengan Aisyah, tanda-tanda
kemuliaan,keagungan dan kebahagiaan telah tampak pada gerakan serta
tingkah lakunya pada masa kecil. Tetapi Aisyah kecil tetaplah seorang
bocahyang tidak bias lepas dari dorongan-dorongan naluriyahnya. Beliau
sangat suka bermain, mainan yang paling disukai olehnya adalah boneka
dan ayunan. Akan tetapi, Aisyah bukan anak kecil biasa, beliau mengingat
dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadis-hadis
yang didengarnya dari Rasulullah SAW . Beliau memahami
hadist-hadisttersebut, meriwayatkannya, menarik kesimpulan darinya serta
memberikan penjelasan-penjelasan tentang detail-detail hukum fiqih yang
terkandung didalamnya. Dan menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yng
dialaminya pada masa kecil. Aisyah bahkan mampu mengingat dengan baik
ayat al-qur’an deang baik yang didengarnya ketika sedang asyik bermain.
Aisyah
menikah dengan Nabi Muhammad SAW pada umur 6 tahun dengan menerima mas
kawin sebanyak 400 dirham. Sebelum dipinang oleh Nabi Muhammad
sebenarnya Aisyah telah bertunangan dengan Jabir bin Muth’im bin Adi.
Tetapi Abu Bakar tidak mau membatalkan pertunangan itu secara sepihak
tanpa terlebih dahulu membicarakannya dengan keluarga Jabir. Maka Abu
Bakar pun pergi menuju kediaman Muth’im bin Adi ayah Jabir. Ketika itu,
keluarga Jabir belum memeluk islam, akhirnya Aisyah pun dinikahi oleh
Rasulullah, ketika itu Aisyah adalah seorang gadis cilik yang masih
kekanak-kanakan yang baru berusia 6 tahun. Tujuan paling mendasar dari
pernikahan ini adalah untuk mengukuhkan hubungan antara kekholifahan dan
kenabian.
Iklim Arab yang panas memang menyebabkan perkembangan
fisik perempuan berlangsung dengan cepat. Tetapi disisi lain,
pribadi-pribadi cemerlang yang memiliki bakat dan potensi tinggi untuk
mengembangkan kemampuan intelektual mereka, biasanya juga cenderung
untuk mencapai kematangan fisik lebih cepat daripada orang-orang biasa.
Keputusan Nabi Muhammmad untuk menikahi Aisyah pada usianya yang sangat
dini itu menunjukan bahwa kecerdasan, kematangan dan kedewasaan berfikir
Aisyah memang mencapai sebuah tingkat yang mengagumkan.
Pernikahan
itu sendiri berlangsung secara sederhana, Ummu Athiyah mengisahkannya
dengan sangat indah.”Rasulullah datang meminang Aisyah binti Abu Bakar
yang masih kanak-kanak. Ketika itu Aisyah sedang bermain, tiba-tiba
pengasuhnya datang dan memegang tangan Aisyah lalu mengajaknya pulang.
Sebelum dinikahkan, Aisyah terlebih dahulu didandani dan diberi hijab,
setelah itu barulah Abu Bakar menikahkannya dengan Rasulullah SAW.
Rumah
yang didiami Rasulullah saw bersama Aisyah r.a bukanlah sebuah istana
yang besar dan megah. Rumah ynag beliau tempati bersama para istri
beliau lebih tepat dikatakan sebagai kamar-kamar dan ruangan-ruangan
kecil diperkampungan Bani Najjar, disekeliling Masjid Nabawi. Diantara
kamar-kamar itu, ada kamar milik Aisyah yang terletak disebelah timur
masjid dan pintu sebelah barat kamar Aisyah ini terletak didalam Masjid
Nabawi sehingga masjid itu seakan-akan menjadi serambi ruangan.[3]
Luas
kamar Aisyah kira-kira enam atau tujuh hasta, dindingnya terbuat dari
tanah liat, atapnya yang terbuat dari pelepah daun kurmasangat rendah
sehingga setiap orang yang berdiri dapat menyentuhnya. Bagian luar kamar
itu dilapisi dengan sejenis minyak untuk mencegah rembesan air hujan,
daun pintu kamar Aisyah hanya satu buah yang terbuat dari kayu junifer
atau kayu jati.
Tahun-tahun terakhir masa kekuasaan Mu’awiyah
adalah masa-masa terakhir pula dari kehidupan Aisyah, ketika itu usia
Aisyah 67 tahun. Ia mulai menderita sakit pada bulan Ramdhan tahun 58
H.[4]
Aisyah meninggal dunia pada malam tanggal 17 Ramadhan,
seusai sholat witir pada tahun 58 H, bertepatan dengan bulan Juni tahun
678 M.[5]
B. Sejarah dan latar Belakang Pendidikan
Bangsa
Arab tidak memiliki tradisi akademis yang bagus, menuntut ilmu merupakan
kegiatan yang kurang disukai oleh kalangan laki-laki apalagi perempuan.
Ketika islam datang, hanya belasan orang yang mampu membaca dan menulis
salah seorang diantara mereka ialah perempuan yaitu Syifa’ binti
Abdullah al-Adawiyah.
Pengembangan dan penyebaran kemampuan baca
tulis adalah salah satu berkah dunia paling penting yang dibawa islam.
Itulah persembahan dari islam bagi seluruh umat manusia, salah satu
bukti yang memperlihatkan islam dalam hal itu adalah peristiwa yang
terjadi setelah perang Badar. Ketiak Rasulullah memerintahkan para
tawanan perang yang tidak memiliki harta benda untuk menebus mereka
dengan mengajarkan kemampuan menulis pada anak-anak Anshar. (HR. Ahmad,
Baihaqi dan Hakim)
Diantara istri-istri Rasulullah hanya Hafsah
dan Ummu Salamah yang bias membaca dan menulis, Hafsah mempelajarinya
dari Syifa al-Adawiyah. (HR. Abu Daud, Ahmad, Baihaqi dan Ibnu Abi
Syaibah)
Ayah Aisyah, Abu Bakar merupakan orang Quraisy yang
paling dalam pengetahuannya tentang geneologi dan syair Arab. Karena itu
syair yang digubah oleh para penyair islam untuk menjawab ejekan para
penyair kaum kafir Quraisy selalu terlebih dahulu dikonsultasikan kepada
Abu Bakar.
Aisyah tumbuh dibawah asuhan ayah yang luar biasa.
Dalam banyak hal Aisyah menyerupia Abu Bakar, tetapi persamaan yang
paling menonjol diantara mereka adalah kecerdasan otak dan kematangan
fikiran. Kecerdasan Aisyah tidak bias dibilang berada dibawah kecerdasan
Abu Bakar, bahkan bisa dikatakan bahwa Aisyah tidak berada dibawah
siapapun –laki-laki maupun perempuan- yang hidup pada masanya dalam
kecepatan berfikir. Kemampuan memahami serta penguasaan terhadap apa
yang berada didalam pikirannya.
Dalam bidang sastra dan geneologi
Aisyah juga belajar dari ayahnya. Ia tercatat memiliki hasrat yang kuat
untuk mempelajari sejarah bangsa, keluasan pengetahuan Aisyah tampak
dengan jelas dalam caranya berbicaradan mengungkapkan gagasan. Ia
dikenal dengan gaya bahasa yang indah yang tidak mungkin dimiliki oleh
siapapun tanpa menguasai warisan tradisi bangsa Arab dari sumber-sumber
aslinya. Aisyah mewarisi kemampuan ayahnya dalam bidang sastra dan
syair. Dari ayahnya pulalah Aisyah mewarisi perasaan yang halus dan
bakat yang luar biasa.
Aisyah baru merasakan pendidikan akademis
yang sebenarnya ketika ia mulai kehidupan berumah tangga bersama
Rasulullah. Ia mulai belajar menulis dan membaca termasuk memmbaca
Al-qur’an, diluar semua itu kemampuan menulis dan membaca sebetulnya
merupakan bagian dari pembelajaran dari sifat lahiriyah, Aisyah
diberkahi dengan kesempatan dan kemampuan yang sangat besar dalam
mempelajari ilmu-ilmu yang esensial itu, tidak saja dalam ilmu-ilmu
agama Aisyah juga mempelajari ilmu-ilmu sejarah, pengobatan dan sastra.
Urwah
menyatakan tidak pernah kulihat seseorang yang pengetahuannya seperti
Aisyah, Ummul mu’minin dalam hal-hal halal haram, ilmu pengetahuan syair
serta pengobatan.(HR. Hakim)
Ilmu pengobatan yang dipelajari
Aisyah dari utusan-utusan kabilah Arab yang berniat untuk Rasulullah SAW
ketika beliau sakit menjelang wafat. Aisyah mempelajari ilmu pengobatan
dari kabilah-kabilah Arab yang datang dan memberikan resep pengobatan
untuk beliau.Aisyah berkata:”Akulah yang membuat resep itu dan dari sana
aku belajar”.
Tidak ada waktu atau jam pelajaran tertentu bagi
Aisyah untuk belajar, ia tinggal bersama Rasulullah dan memiliki
kesempatan untuk menemani beliau sepanjang siang dan malam. Selain itu
majlis-majlis ilmu dan dakwah selalu diadakan di masjid Nabawi setiap
hari sementara kamar Aisyah berdempetan dengan masjid. Setiap kali ada
persoalan yang tidak kita pahami atau ia dengar tidak baik, Aisyah
selalu menanyakan kepada Rasulullah dirumah. Dalam beberapa kesempatan,
Aisyah mendekat ke masjid agar ia dapat menyimak dengan jelas ajaran
yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dengan begitu Aisyah memiliki
banyak kesempatan untuk mempelajari sunnah-sunnah Rasul tentang banyak
hal diberbagai bidang pengetahuan.
Berdasarkan hadits-hadits
tampak dengan jelas mengajarkan kepada Aisyah hukum-hukum agama serta
persoalan-persoalan syariat dalam berbagai bidang, Aisyah mempelajari
dengan penuh semangat, dengan telinga terbuka dan hati sadar, iapun
kemudian mengamalkan ajaran-ajaran itu secara tekun dan konsisten.
Salah
satu contoh ketekunan Aisyah dalam menjalankan ajaran-ajaran
Rasululllah tercermin pada pernyataannya,”Aku tetap melaksanakan sholat
(dhuha) seperti aku melakukannya pada zaman Rasulullah, seandaikan
ayahku dibangkitkan kembali lalu ia melarangku untuk melaksanakan sholat
itu, maka aku tidak akan mengindahkan larangan-Nya”(HR.Ahmad)
Orang
terpenting yang meriwayatkan dari siti Aisyah secara mutlak yaitu Urwah
bin az Zubair bin al-Awwam. Dia adalah putra Asma bin Abu Bakar
as-Shiddiq, ia telah meriwayatkan 75% riwayat Aisyah. Orang lain yang
meriwayatkan Aisyah adalah al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar
as-Shiddiq yang dipelihara oleh Aisyah setelah ayahnya terbunuh.
C. Aktivitas Dakwah Aisyah r.a
Peran politisi Aisyah dalam kekacauan pada masa Utsman
1. Kedudukan Utsman dalam pandangan Aisyah
Aisyah
adalah orang yang paling mengenali siapa Utsman, bagaimana keutamaan
dan perikehidupannya, bagaimana kedudukannya yang tinggai disisi
Rasulullah Saw. Inilah yang dikatakan Aisyah seperti yang diriwayatkan
oleh Muslim didalam shahihnya,”Rasulullah saw berbaring didalam rumahku,
membiarkan kain kedua paha atau betis beliau tersingkap. Abu Bakar
meminta izin untuk masuk maka beliau mengizinkannya sementara keadaan
beliau seperti itu, lalu beliau berbincang-bincang. Kemudian Umar
meminta izin untuk masuk maka beliau duduk dan merapikan letak kain,
lalu beliau berbincang-bincang, setelah mereka keluar rumah, Aisyah
berkata:”Abu Bakar masuk sedang engkau bersikap lunak dan tak perduli
terhadap dirinya, kemudian Umar masuk, engkau bersikap yang sama,
kemudian Utsman masuk, engkau duduk dan merapikan letak kain engkau”
Beliau bersabda “apakah aku tidak layak kepada seorang lelaki yang para malaikatpun merasa malu kepadanya”.[6]
Ketika
banyak orang yang mencaci Utsman, maka Aisyah menjawab “Allah melaknat
siapapun yang melaknat Utsman, demi Allah dia pernah duduk didekat
Rasulullah, sementara beliau menyandarkan punggungnya kepadaku, lalu
beliau bersabda:”tulislah wahai Utsman”!
Aisyah berkata:”Allah
tidak pernah menurunkan kedudukan seperti itu kecuali kepada orang yang
mulia dihadapan Allah dan Rasul-Nya”.
2. Sikap Aisyah tentang pembunuhan terhadap Utsman
Tidak
terlalu aneh jika sikap Aisyah terhadap pembunuhan Utsman, sama seperti
sikap semua sahabat, yang marah terhadap pembunuhnya. Riwayat yang
paling gambling menggambarkan hal ini ada pada at-Thabary, as-Sary, dari
Syuaib, dari Saif, dari Muhammad dan Thalhah, yang didalamnya
disebutkan”ketika orang-orang melarikan diri merunduk dihadapan Aisyah
di Mekkah, maka ia menanyakan berita kepada mereka, lalu mereka
mengabarkan terbunuhnya Utsman. Tak seorang pun diantara mereka yang
menjawab bahwa pembunuhan itu karena persengkongkolan. Aisyah
berkata:”Tapi dapat disimpulkan bahwa hal ini merupakan akibat yang
harus ditanggung karena kalian mengabaikan perdamaian”.[7]
Dalam
kasus pembunuhan Utsman ini, Aisyah memiliki pengamatan yang detail dan
analisis yang mendalam terhadap perbuatan anak buah Abdullah bin Saba’
dan yang digerakkan perusuh, yang secara terang-terangan menunjukan
pemberontakan terhadap kholifah seperti gambaran yang menyedihkan ini
terkadang masih terjadi dalam sejarah orang-orang muslim hingga detik
ini.
Kepedihan Aisyah terhadap bencana yang menimpa orang-orang
muslim merupakan factor yang membuatnya tidak mau angkat bicara sepatah
katapun. Hal ini juga menunjukan keinginan yang kuat untuk mencermati
permasalahan.
3. Kepergian Aisyah ke Bashrah untuk mengadakan rekonsiliasi
a. Beberapa kejadian yang mendahului kepergian Aisyah
1) Baiat terhadap Ali bin Abi Thalib
2) Baiat Thalhah dan az-Zubair tehadap Ali
3) Negosiasi antara Ali dengan Thalhah dan az-Zubair untuk menegakkan hukum
4) Ali tidak menyinggung secara jelas penegakkan hukum dalam pidatonya
5) Thalhah dan az-Zubair menyampaikan rencananya kapada Ali
b. Kepergian Aisyah untuk menuntut darah Utsman
Aisyah
merasa bahwa Utsman terbunuh sebagai orang yang dizhalimi, karena itu
Aisyah menajak banyak sahabat untuk menuntut darah Utsman dan memuliakan
islam. Kepergian Aisyah untuk menuntut darah Utsman disetujui oleh
beberapa istri nabi yang lainnya meskipun sebagian tidak bersedia untuk
ikut. Aisyah sendiri dan para sahabat yang bersamanya tidak memaksudkan
kepergian ini untuk melawan Ali atau untuk melakukan perlawanan terhadap
khalifahnya.
Kelayakan untuk melaksanakan rekonsiliasi diantara
orang-orang muslim ini ada pada diri Aisyah, baik ditilik dari usia,
pengetahuan, kemampuan dan kedudukannya. Sebab Aisyah adalah orang yang
paling tahu diantara Ummahatul Mu’minin lainnya tentang ijma’ jumhur
muslimin.
Aisyah juga sangat peduli terhadap berbagai urusan
secara umum dan memiliki sosok politikus yang sudah terbentuk semenjak
ia dibesarkan dirumah Abu Bakar, orang yang mendalami berbagai peristiwa
bangsa Arab dan nasab-nasab mereka, yang kemudian hidup didalam rumah
Rasulullah SAW yang dari rumah inilah keluar sendi-sendi pengendalian
dualah islam. Kemudian ia berada dirumah kholifah kaum muslim yang
pertama, ditambah lagi dengan pemahaman yang dimiliki tentang kedudukan
wanita dalam islam dan tanggungjawabnya secara penuh bersama kaum
laki-laki dalam mengemban urusan kaum muslimin dami kemashlahatan
mereka.
Para pakar sudah mengakui kedudukan Aisyah yang tinggi
ini, mereka menyatakan secara pasti. Az-Zuhry berkata:” sekiranya semua
ilmu manusia, termasuk pula Ummahatul Mu’minin dikumpulkan menjadi satu,
tentu ilmu Aisyah masih lebih luas daripada mereka.
Al-Ahnaf bin
Qais pemimpin bani Tamim dan salah seorang orator bangsa Arab
berkata:”aku pernah mendengar pidato Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan
para kholifah sesudah mereka. Namun aku tidak pernah mendengar perkataan
yang dilontarkan mulut makhluk yang lebih indah dan lebih baik daripada
perkataan yang terlontar dari mulut Aisyah”. Muawiyah juga pernah
mengatakan yang senada dengan perkataan ini.
Aisyah, Talhah, dan
Az-Zubair serta para sahabat lainnya melihat kelambanan Ali dalam
menegakkan hukuman terhadap orang-orang yang membunuh Utsman merupakan
perubahan sikapnya, sehingga mereka mengira Ali mengabaikan masalah ini,
apalagi pembunuhan terhadap Utsman sudah berlalu empat bulan.
Maka
siapapun yang memiliki kedudukan, ilmu dan pemahaman seperti Aisyah,
harus tampil sesuai ijtihad dan ilmunya. Patutkah orang semacam Aisyah
tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin, sementara dia mengetahui
bahwa siapa yang tidak memperhatikan urusan orang - orang muslim, maka
tidak termasuk golongan mereka? Bagaimana mungkin dia tidak peduli,
padahal dia mempunyai kedudukan yang terpandang di tengah mereka, dia
adalah ibu mereka yang dididik di sekolah Islam dan tahu bagaiman
menjaga hak – hak.
4. Perdamaian antara Aisyah-Ali
Setelah
banyak perselisihan yang disebabkan isu – isu tidak jelas, yang
menyebabkan peperangan antara pasukan Aisyah dengan penduduk Bashrah
hingga terbunuhnya Utsman bin Hanif ( Gubernur Bashrah ), maka Aisyah
mengirim surat ke berbagai wilayah untuk menyatakan tujuan mereka yaitu
untuk menegakkan hukum Allah bukan untuk berperang atau melakukan
perlawanan terhadap khalifah. Mendengar kabar ini, Ali menjadi tenang
dan mereka tidak meragukan lagi terciptanya rekonsiliasi.
Ali
hendak menegaskan kepada Aisyah, Talhah dan Zubair, keinginannya untuk
melaksanakan rekonsiliasi. Buktinya, Ali tidak menuntut pemisahan
orang-orang yang menolong untuk menuntut orang-orang yang membunuh
Utsman, semenjak ia keluar dari Madinah. Apa yani dia lakukan disini
karena dia mengadakan rekonsiliasi dengan Aisyah dan ornag-orangnya. Ali
juga telah mengirim utusan kepada para pemuka rekan-rekannya untuk
memusyawarahkan rekonsiliasi ini, tapi dia tidak mengirim utusan kepada
orang yang telah membunuh Utsman.
Ini merupakan kali kedua semasa
khilafahnya dia menuntut seperti itu seakan-akan dia sudah mengantongi
kesepakatan orang-orang muslim, pendudu Kuffah dan Bashrah yang menjadi
kekuatan baginya disamping dia tidak lagi khawatir terhadap nasib
penduduk Madinah dari kekuasaan para perusuh. Karena itukah dia berani
mengambil keputusan itu, padahal justru inilah yang menjadi bencana
besar.[8]
5. Perang Jamal
Pada saat itu ada segolongan
orang yang termasuk mereka yang menyerang Utsman dan menyerangnya,
mengadakan pertemuan. Mereka terus saling bertukar pikiran hingga
Abdullah bin Saba’ berkata kepada mereka:”sesungguhnya kemulian kalian
terletak pada kekacauan manusia. Karena itu buatlah mereka kacau. Jika
besok orang-orang saling bertemu, sulutlah peperangan dan jangan biarkan
mereka berpikir lebih lanjut. Siapapun diantara kalian yang bersama Ali
tidak mampu menghalang-halanginya, maka biarlah Ali, Thalhah dan Zubair
sibuk sendiri, sedang kalian dapat memecah belah manusia, dan mereka
tidak menyadarinya.[9]
Pada malam itu, saat mereka dalam situasi
damai, kaki tangan Abdullah bin Saba’ menyulut api peperangan. Ka’ab bin
Sur menemui Aisyah untuk meminta pertolongan.”ketahuilah ternyata
mereka tidak menghendaki kecuali peperangan. Semoga Allah mendatangkan
kebaikan lewat dirimu”.
Aisyah bangkitorang-orang memasang sekedupnya yang kokoh dan menyerahkan untanya.
Dalam
kemelut peperangan itu Aisyah berusaha menghentikan peperangan begitu
pula yang dilakukan oleh Thalhah, az-Zubair dan para sahabat yang
semuanya, Aisyah berkata:”Lepaskan untaku wahai Ka’b, majulah dengan
membawa kitab Allah dan serulah mereka kepadanya”. Sambil menyodorkan
mushaf kepada Ka’b.
Para kaki tangan Abdullah bin Saba’
benar-benar takut sekiranya terjadi perdamaian diantara manusia. Ketika
Ka’b menghadapi mereka sambil membawa mushaf dan Ali dibelakang mereka
untuk menghentikan perbuatannya, teryata mereka tidak mau berhenti dan
justru mereka semakin merangsek kedepan hingga mereka menghujam anak
panah kepada Ka’b dan membunuhnya. Mereka juga melempari sekedup Aisyah.
Maka Aisyah berteriak”wahai anakku, kebaikan, kebaikan”. Suaranya
meninggi mengucapkan Allah..Allah ingatlah dan hisab”. Mereka tidak
peduli, terlihat jelas bagaimana mereka sengaja hendak menghabisi
Aisyah.[10]
Dimedan peperangan, ketika manusia disibukkan oleh
peperangan, Muhammmad bin Thalhah berseru kepada Aisyah:”wahai ibu,
perintahlah aku apapun yang engkau perintahkan”. Aisyah berkata:” aku
memerintahkan agar engkau menjadi anak Adam yang paling baik jika engkau
masih hidup”. Begitulah sosok Ummul mu’minin yang wara’ dan bertakwa
dalam keadaan bagaimanapun.
Peperangan terus berlanjut hingga
sore hari, ketika hari muali petang, Ali maju kedepan, unta sudah
diamankan dan orang-orang menghentikan peperangan.
Aisyah dan Praktik Mengajar
Aisyah
adalah guru dan pengasuh sebuah madrasah ilmu dan keagamaan di Madinah.
Murid-murid yang termasuk mahrom di didik langsung dihadapannya,
sedangkan laki-laki yang bukan mahrom belajar kepada aisyah dari balik
tirai. Aisyah tidak pernah bosan untuk menjawab semua pertanyaan yang
diajukan kepadanya tentang persoalan apapun yang menyangkut
ajaran-ajaran Islam, termasuk tentang persoalan-persoalan pribadi. Dari
madrasah yang diasuh oleh Aisyah itu lahir banyak ulama terutama dari
kalangan Tabi’in.
Fatwa-fatwa Aisyah Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Aisyah
telah memegang posisi pemberi fatwa semenjak Rasulullah wafat, ia
menjadi sumber rujukan umat islam dalam setiap persoalan hingga akhirnya
iapun wafat. Setiap kali terjadi perselisihan pendapat diantara ulama,
Aisyahlah yang mereka tuju untuk menghakimi persoalan itu.
Aisyah Membimbing dan Mengarahkan Umat Islam
Upaya-upaya
yang dilakukan Aisyah dalam membimbing umat islam tidak bisa dipandang
sebelah mata. Nilainya tidak kalah dibandingkan dengan apa yang
dilakukan oleh para sahabat yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar